Pun dengan Rasulullah Muhammad saw yang tidak lain
adalah sebagai pem-bawa risalah dari Allah swt. Beliau menuntun
ummatnya untuk senantiasa taqwa kepada Allah dengan memperbanyak amal
ibadah. Sebagai nabi, beliau hanya menyampaikan dan menjelaskan tata
cara ibadah yang mesti dilakukan oleh umatnya, dan beliau sama sekali
tidak membuat ibadah apapun.
Tampilkan postingan dengan label dhaif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dhaif. Tampilkan semua postingan
15 Okt 2012
Hadist( PALSU ) Seputar Ramadhan
Ibadah adalah tujuan utama mengapa Allah swt menciptakan jin dan
manusia. dan wewenang untuk mem-buat sebuah ibadah adalah wewenang Allah
swt. Dia mengutus para rasul dan nabi dengan membawa kitab suci dari
masing-masing utusan itu agar menjadi petunjuk bagaimana manusia
beribadah kepada Rabb-nya.
9 Okt 2012
hadis dhaif
Hadits-Hadits Dha’if seputar Puasa dan Ramadhan
Hadits Pertama: Doa, “Allahumma barik lana fi rajaba wa sya’ban wa balighna fi Ramadhan.”
Hadits ini sangat terkenal, sering terdapat dalam spanduk dan majalah-majalah Islam menjelang datangnya Ramadhan.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
كَانَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِي
رَمَضَانَ
Dari Anas bin Malik berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika masuk bulan Rajab, dia berkata: “Allahumma Barik lanaa fii Rajaba wa Sya’ban wa Barik lanaa fii Ramadhan.” (Ya Allah Berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban wa Berkahilah kami di bulan Ramadhan). (HR. Ahmad, No. 2346. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Awsath, No. 4086, dengan teks agak berbeda yakni, “Wa Balighnaa fii Ramadhan.” Al Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 3654)
Dalam sanad hadits ini terdapat Zaidah bin Abi Ruqad dan Ziyad an Numairi.
Imam Bukhari berkata tentang Zaidah bin Abi Ruqad: “Munkarul hadits.” (haditsnya munkar) (Imam al Haitsami, Majma’ az Zawaid, Juz. 2, Hal. 165. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)
Imam An Nasa’i berkata: “Aku tidak tahu siapa dia.” Imam Adz Dzahabi sendiri mengatakan: “Dha’if.” Sedangkan tentang Ziyad an Numairi beliau berkata: “Ziyad dha’if juga.” (Imam Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal, Juz. 2, Hal. 65)
Langganan:
Postingan (Atom)
Home





